Content

What We Made of.......

03/08/11 0 respon

Jika kita dilatih dengan celaan, kita akan memaki
Jika kita dilatih dengan permusuhan, kita akan berkelahi
Jika kita dilatih dengan cemoohan, kita akan rendah diri
Jika kita dilatih dengan penghinaan, kita akan menyesali diri
Jika kita dilatih dengan toleransi, kita akan menahan diri
Jika kita dilatih dengan motivasi, kita akan percaya diri
Jika kita dilatih dengan perjuangan, kita akan menghargai proses
Jika kita dilatih dengan keberanian, kita akan berhitung dengan resiko
Jika kita dilatih dengan rasa syukur, kita akan menghargai yang kita miliki
Jika kita dilatih dengan kasih sayang dan persahabatan, kita akan menemukan cinta dalam kehidupan
What We are derived from what We made of...............


with regards,

Faizal SurpluS MBA
Motivator | Pendiri SurpluS Institute
www.surplusinstitute.com
Baca selengkapnya »

Orangnya Baik Lo...

31/07/11 0 respon
Dalam kehidupan, manusia memiliki kodrat sebagai makhluk sosial. Untuk menikmati, menjalani, dan memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia harus berhubungan dengan orang lain. Tentu dipahami, dalam proses tersebut ada potensi konflik atau perselisihan, meskipun ada kalimat bijak yang menyatakan bahwa "1000 teman terasa kurang, 1 musuh terlalu banyak." 


Nah, berapa banyak dari kita yang tanpa sadar menanam dan menyemai musuh? Istilah yang ekstrim, musuh! mengingat bisa jadi ketika kita berselisih, kita tidak menyapa, tidak mau menemui, atau menganggap tidak ada, sebuah situasi yang serius bukan.
Sebenarnya ada hal sederhana yang bisa kita lakukan, yaitu memisahkan konteks antara orang dengan persoalannya. Bagaimana maksudnya? Sering kita lakukan ketika memiliki masalah dengan seseorang, kita juga terbawa bahwa kita juga bermasalah dengan suami/istrinya, orang tuanya, kakaknya, adiknya, pakdhenya, budhenya, embahnya, rumit!
Pisahkan orang dengan masalahnya, dasarnya adalah semua orang baik, sebagai makhluk ciptaan Tuhan, setiap manusia diciptakan dalam kondisi terbaik. Jadi pada dasarnya : Orangnya Baik Lo....., cuma kelakuan, sifatnya, perilakunya yang perlu perbaikan, wehehe....
Terasa sulit? Tidak juga, ada sebuah anekdot yang menarik untuk mengilustrasikan hal ini : 
Alkisah suatu hari di pesantren, suasana pada pagi hari/subuh. Hawa dingin dan rasa malas biasanya membuat pelupuk mata santri lebih berat dan semakin berat untuk bangun. Melihat situasi tersebut, sang kiyai segera mengambil tindakan. Santri yang tersadar pun segera bangun dan bergegas membangunkan santri di sekitarnya. sang kiyai terus memeriksa, dengan berbekal tongkat rotan, sang kiyai segera menghampiri santri terakhir yang belum bangun juga. Aha, ini dia, pikir sang kiyai. Tongkat pun diangkat dan dipukulkan ke kaki santri.
"Plak...."
Terdengan suara tongkat rotan sang kiyai dengan betis santri......
Kemudian santri yang dipukul lari terbirit-birit, seketika terdengar tawa terbahak-bahak dari sang kiyai dan tawa cekikikan dari santri yang dipukul.
Aneh, dipukul malah tertawa, betul, tertawa lepas...............
Karena setelah memukul, sang kiyai dengan lantang berkata :
"Nah, yang lari terbirit-birit itu santriku, yang kupukul tadi setan yang membuatnya malas bangun shubuh.."
Pisahkan orang dengan masalahnya........
Semoga bermanfaat.

with regards, 

Faizal SurpluS MBA
Motivator | Pendiri SurpluS Institute
www.surplusinstitute.com
Baca selengkapnya »

Pentingnya Perizinan/Aspek Legal dalam menjalankan Usaha

29/07/11 0 respon
Perizinan/aspek legal adalah salah satu aspek penting dalam memulai dan menjalankan sebuah usaha. Tentunya banyak dari kita yang setuju, banyak juga yang tidak sependapat, hal ini lumrah dan sah-sah saja. Faktanya, banyak usaha yang dijalankan di Indonesia Raya ini dengan prinsip "pokoknya jalan dulu". Baguskah? Tentu saja bagus, hal ini akan membuat proses lahirnya usaha-usaha baru semakin mudah, dan cepat. Namun proses untuk membuat usaha lebih besar, memberi manfaat lebih banyak, melayani pasar yang lebih luas, beraktifitas di level yang lebih tinggi, maka perizinan mutlak diperlukan. Kuncinya di kemauan dan ketelatenan memproses berbagai perizinan, tentunya dengan mempersiapkan biaya-biaya yang muncul dari proses pengurusan izin-izin dimaksud.

Dengan mengucap syukur, saat ini perizinan SurpluS Institute, Lembaga  Pelatihan dan Motivasi yang saya dirikan telah lengkap diproses. Sebagai Lembaga Pelatihan Professional, SurpluS Institute memperhatikan beragam aspek legal formal. Untuk menunjang aktifitas dan produktifitas, saat ini SurpluS Institute memiliki beberapa izin antara lain : 
  1. Akta SurpluS | Nomor 179 | Tanggal 27 April 2011 | Notaris Paulus Oliver Yoesoef, S.H.
  2. Surat Ijin Usaha Perdagangan | Nomor 517/386/35.73.407/2011 | Tanggal 09 Juni 2011
  3. Tanda Daftar Perusahaan | Nomor TDP : 130835203249 | Tanggal 13 Juni 2011
  4. Surat Keterangan Terdaftar Pajak | Nomor : PEM-0002348ER/WPJ.12/KP.0103/2011 | NPWP : 31.317.797.4-652.000 | Tanggal 6 Mei 2011
  5. Surat Izin Gangguan | Nomor : 530.08/0925/35.73.407/2011 | No Register : IG/0960/PERIJ/VI/2011 | Tanggal 07/06/2011
  6. Sertifikat Tanda Pendaftaran Dinas Ketenagakerjaan dan Sosial Kota Malang | Nomor : 563/08/35.73.312/2011 | Tanggal 18 Juli 2011
  7. Ijin Penyelenggaraan Lembaga Latihan Kerja Sekretaris Daerah Kota Malang |  Nomor : 188.451/3/35.73.112/2011 | Tanggal 18 Juli 2011
Bagi rekan-rekan yang tertarik melakukan hal serupa, melengkapi perizinan yang diperlukan untuk memperlancar usaha, silakan bisa berdiskusi dengan Saya, semoga usaha Anda semakin lancar dan berkah.

Semoga bermanfaat.

with regards, 


Faizal SurpluS MBA 
Motivator | Pendiri SurpluS Institute 
Baca selengkapnya »

Siapa Gagal, Jangan Dibikin Kekal

26/07/11 0 respon

Banyak dari kita sudah merinding ketika mendengar kata gagal. Perasaan kalah, malu, terpuruk, dan beragam perasaan negatif segera muncul paralel dengan perasaan gagal itu sendiri, namun bila kita jeli, gagal ini jangan dibikin kekal, jangan pernah biarkan.


Billy Lim, seoang penulis dan motivator asal Singapura memberikan banyak pembahasan dan sudut pandang baru mengenai kegagalan, salah satu bukunya yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia membahas mengenai keberanian untuk gagal. Menarik sekali membaca buah pikiran dari Billy Lim, dan tentunya sebuah pemikiran dasar yang secara menarik disampaikan memberikan pesan yang jelas, bahwa kegagalan bukan untuk dihindari atau ditakuti, karena untuk gagal pun ternyata memerlukan sebuah keberanian.
Saya jadi teringat ketika memberikan sebuah pelatihan mengenai bisnis di Kampus STIE Malangkucecwara (d/h ABM) awal tahun ini. Setelah sesi pemaparan yang menarik dan dinamis, sesi dilanjutkan dengan tanya jawab, dipandu oleh Bapak Faishal Rahman, owner Praktis Travel, sesi tanya jawab secara antusias dimanfaatkan oleh ratusan peserta yang hadir. Ada yang menarik dari sesi tanya jawab ini, yakni pertanyaan yang muncul dari seorang penanya, yang kebetulan adalah mahasiswa, yang mulai menjajaki peluang bisnis online. Pertanyaannya sistematis dan runtut, ada beberapa pertanyaan diajukan, dan yang lebih menarik, semuanya bernada ketakutan akan kegagalan. Pertanyaan yang disampaikan antara lain apakah bisnis online menjanjikan, berapa lama trend bisnis online akan bertahan, dan yang lebih menarik pertanyaan ketiga, yakni bagaimana jika mengalami penipuan ketika bisnis online. Pertanyaan yang menarik, mengingat sang penanya bahkan belum “memulai” bisnis onlinenya.
Fenomena seperti ini yang banyak muncul di masyarakat kita, sehingga ketakutan akan kegagalan begitu besar, sehingga memberikan sebuah alasan kuat-rasional untuk membuat kita menunda atau bahkan batal melakukan. Ada rangkaian kalimat bijak yang tepat untuk konteks ini, yaitu : “Lebih baik banyak salah namun melakukan, daripada tidak pernah salah karena tidak pernah melakukan apa-apa”. Kesalahan atau kegagalan justru dapat kita jadikan momen untuk evaluasi, menemukan, menganalisa, dan mengambil hikmah, meningkatkan pengetahuan dan kemampuan kita dengan proses yang terukur. Jadi apakah kita tidak perlu takut gagal? Tentu saja perlu, dengan cara yang lebih positif tentunya. Saya pembicara publik, motivator, saya begitu takut gagal dalam penampilan di depan audiences, namun ketakutan ini tidak membuat saya membatalkan sesi tampil di depan audiences yang sudah siap bahkan bersedia mengeluarkan biaya untuk mengikuti pelatihan saya. Ketakutan akan gagal ini justru saya jadikan sebuah energi positif untuk selalu memiliki titik nervous, sehingga secara rutin dan tekun saya berlatih, sehingga secara teliti saya siapkan kostum saya, microphone yang saya gunakan, saya periksa kembali slide dan momen-momen yang saya persiapkan untuk mengkondisikan, menimbulkan keceriaan, atau memberikan kejutan kepada audience. Saya begitu takut gagal tampil optimal sehingga saya bersiap. Anda juga bisa menerapkan teknik yang sama.
Sebagai penutup dari tulisan ini, ada sebuah kalimat bijak dari Jepang yang kurang lebih artinya : “Jatuh 7 kali, bangkit 8 kali”. Ada makna mendalam dari statemen ini, bahwa selama jumlah kebangkitan kita lebih banyak dari jumlah kejatuhan kita, maka kita tidak gagal. Ketika hidup memberikan kita tantangan, ujian, dan menggoyahkan kaki kita, menghantam tubuh kita, membuat kita jatuh terjerembab, selama kita masih mampu untuk bangkit, menyeka peluh, menyingkirkan debu dan kotoran, serta kembali melangkah, maka kita tidak gagal, selama ada upaya dan kemampuan untuk kembali mencoba dan melangkah, kita tidak gagal. Kegagalan baru menjadi absolut ketika kita memutuskan menyerah dan berhenti, ketika kita menyatakan finish, kegagalan baru menjadi kekal ketika kita menyatakan stop. Selama itu belum terjadi, kita tidak gagal, karena langkah selanjutnya akan memberikan perbedaan terhadap hasil dan pencapaian kita.
 
with regards,

Faizal SurpluS MBA
Motivator | Pendiri SurpluS Institute
www.surplusinstitute.com
Baca selengkapnya »

Liputan Event Level Up! SurpluS Institute di Buletin Prasetya

0 respon
Berikut Saya lampirkan liputan event Level Up! yang diselenggarakan oleh Surplus Institute pada 16 Juli 2011. Liputan ini dikutip dari Prasetya Online. Semoga bermanfaat.

Seminar Level Up: Melejitkan Karir sebagai Pengusaha maupun Karyawan

Dikirim oleh humas3 pada 18 Juli 2011 | Komentar : 0 | Dilihat : 262

Menyadari peranan entrepreneur sangat penting dalam menumbuhkan perekonomian negara, menyebabkan banyak negara berusaha untuk menciptakan entrepreneur baru. Saat ini banyak tumbuh program pendidikan formal, non formal, maupun pelatihan-pelatihan institusi pemerintah maupun swasta di Eropa, Amerika, dan Perguruan Tinggi di Asia. Berbagai usaha yang dapat dilakukan adalah melalui pendidikan, pelatihan, dan pembinaan masyarakat mulai usia dini sampai dewasa. Berikut disampaikan Dr. Ir. Nuhfil Hanani, M.S., Direktur Utama Inkubator Bisnis (INBIS) Universitas Brawijaya (UB) dalam Seminar Level Up, Sabtu (16/7), di Aula Lantai IV Gedung INBIS UB.
Nuhfil mengungkapkan jumlah entrepreneur di Indonesia baru mencapai 0,18 persen sehingga akibat yang terjadi, banyak pencari kerja dan pengangguran. "Paradigma Universitas Brawijaya adalah sebagai entrepreneurial university dimana lulusan berperilaku entrepreneur dan pencipta tenaga kerja," jelas Nuhfil.
Seminar yang diadakan oleh Surplus Institute bekerjasama dengan Inbis UB ini bertujuan untuk menganalisis mental dan kemampuan diri, memahami perbedaan pola pikir dan pola kerja baik, memiliki mindset dan mental yang benar baik pengusaha maupun karyawan. Syamsudin Machfoedz, pakar transformasi sukses dari Surplus Jakarta menyampaikan cara melejitkan karir baik sebagai karyawan maupun  pengusaha.


Syam mengatakan untuk melejitkan karir sebagai karyawan, kuasai dan jalani regulasi perusahaan, bergaul dengan semua rekan sekantor dan kuasai pekerjaan. "Sebagai wirausahawan, customer service sangat diperlukan, pilih customer yang punya daya beli, tentukan jenis usaha, fokus pada usaha, dan harus mempunyai target," papar Syam yang pernah menjadi direktur perusahaan multinasional dan kemudian beralih menjadi pengusaha.
Faizal Surplus sebagai pimpinan Surplus Malang mengatakan seminar ini untuk pembekalan softskill yang lebih berimbang dan lebih general. "Dengan adanya seminar ini diharapkan peserta mampu memahami dan menerapkan Level Up untuk mengambil keputusan penting menjadi karyawan atau pengusaha," ungkap Faizal. "Saya harap acara ini dapat menjadi agenda reguler baik di kalangan internal UB dan eksternal UB," pungkas alumni PMW UB 2009 ini. [mit]

Kutipan asli dapat diakses : Disini
with regards, 

Faizal SurpluS MBA 
Motivator | Pendiri SurpluS Institute 
www.surplusinstitute.com
Baca selengkapnya »

Tanya, Tanya, Tanya !

25/07/11 0 respon
Apa saja cara yang bisa kita tempuh untuk belajar/ mendapatkan pengetahuan? Sebelum membahas mengenai hal ini, hal yang paling mendasar adalah mengakui ketidaktahuan. Promod Bathra, penulis dan public speaker Amerika menyatakan bahwa "Kesadaran dan pengakuan akan ketidaktahuan, adalah kunci pembuka untuk mendapatkan pengetahuan"
Ketidaktahuan membuat kita sadar bahwa kita memiliki keterbatasan, dan membuat kita mau belajar untuk mendapatkan pengetahuan yang semakin bertambah setiap saat. Berapa banyak dari kita yang punya jawaban atas pertanyaan "Apa cara belajar yang paling efektif dan efisien?" Jawaban bisa beragam, pendapat bisa bermacam, namun menurut saya, cara belajar yang paling efektif dan efisien adalah dengan "bertanya". Apa argumennya? Bertanya memberi kita kesempatan untuk mendapatkan informasi dan jawaban sesuai dengan kebutuhan kita, bertanya memberikan kita efisiensi untuk mendapatkan jawaban dan solusi spesifik atas kebutuhan informasi kita, menarik bukan?
kenapa sih bertanya ini menjadi penting? Bukankah bertanya itu mudah? Bukankah setiap orang boleh bertanya? Bukankah setiap saat kita berhak untuk bertanya?
Nanti dulu, berapa banyak dari kita yang merasa lebih baik memendam pertanyaan supaya tidak dianggap tidak tahu, berapa banyak dari kita mengurungkan niat untuk bertanya agar dianggap sudah paham dan sudah menguasai apa yang dibicarakan? Padahal boleh kita simpulkan bahwa orang yang tidak mau dianggap tidak tahu, justru akan semakin tidak tahu,  dan orang yang sok paham dan sok menguasai justru semakin membuat dirinya terbelenggu, katak dalam tempurung.
Maka mari menampilkan respek yang elegan, bertanya jika menemui ketidaktahuan, mengucap terimakasih bila mendapat pengetahuan baru, dan menghargai setiap orang yang memiliki performance dan skill yang levelnya di atas kita, sehingga pertanyaan yang kita sampaikan dan jawaban yang diberikan akan sama-sama memberikan dampak Level Up!, baik bagi penanya maupun pemberi jawaban.
Tanya! Tanya! Tanya! terapkan cara tercepat untuk belajar dan memetik pengetahuan baru.

with regards,

Faizal SurpluS MBA
Motivator | Pendiri SurpluS Institute
www.surplusinstitute.com
Baca selengkapnya »

Bisnis, Cari Masalah Saja!

0 respon
Dalam sebuah pelatihan pembekalan bisnis yang digelar di Hotel Gajah Mada Graha Kota Malang di pertengahan 2011 kemarin, dimana Saya menjadi salah satu pembicara,  ada hal menarik dari materi yang dibahas mengenai bisnis dan proses mencari masalah, yang ternyata memiliki keterkaitan erat. Bisnis koq cari masalah? kita perdalam bersama-sama.
Berapa banyak dari kita yang menunda atau bahkan mengurungkan niat berbisnis karena 2 hal klasik yang bertolak belakang, yakni : kekurangan ide bisnis, atau, kelebihan ide bisnis. Angkat tangan bagi yang mengalami masalah serupa, jangan kecil hati, anda tidak sendiri, kebimbangan ini dihadapi oleh mayoritas pebisnis pemula. Nah, teringat akan hal ini, ada celetukan menarik dari peserta, bahwa untuk menentukan sebuah bisnis, tekniknya sederhana, yaitu cukup : cari masalah!!
Wow, pemikiran baru bagi Saya, pembicara yang baik pasti merupakan pendengar yang baik. Dari konsep yang disampaikan, saya simak, idenya memang nakal dan out of the box, namun sederhana dan aplikatif, bahwa memang benar untuk menentukan sebuah bisnis secara dasar, cukup cari masalah, namun jangan berhenti disitu, pastikan anda memiliki solusinya, maka bisa jadi itulah titik dimana anda menemukan bisnis yang tepat.
Logikanya sederhana, ada masalah bahwa kita tidak bisa mencukur rambut kita sendiri, ada orang yang menawarkan solusi dan siap mencukurkan rambut kita, ada masalah kita tidak sempat mencuci pakaian kita sendiri, ada yang menawarkan solusi laundry, dan tentu saja cukur rambut dan laundry tersebut solusi sekaligus bisnis mereka.
Jadi untuk menemukan bisnis yang tepat untuk kita, perkuat radar, analisa market dan lingkungan sekitar, masalah-masalah apa saja yang kita bisa berikan solusinya, tentunya dengan berbagai nilai tambah yang kita persiapkan. Harga yang lebih kompetitif, layanan yang lebih ramah, proses yang lebih cepat, kemasan yang lebih menarik, pengembangan dan inovasi, maka jadilah kerangka dasar bisnis kita.
Ubah pola pikir, pertajam paradigma, Ciputra menyatakan bahwa entrepreneur merubah sampah menjadi emas, tentunya menjadi tantangan bagi kita, dengan banyaknya masalah, tentu menjadi banyaknya peluang yang bertebaran. Membawa sudut pandang ke arah pemikiran positif, Level Up! Yourself!
with regards, 

Faizal SurpluS MBA 
Motivator | Pendiri SurpluS Institute 
www.surplusinstitute.com
Baca selengkapnya »

Membayar Harga Atas Kesuksesan.

24/07/11 0 respon
Dalam sebuah sesi pelatihan motivasi, Saya pernah menyampaikan sebuah pertanyaan sederhana berikut ini : "Apa harga yang harus kita bayar untuk sebuah kesuksesan?" Dari pertanyaan tersebut, Saya belajar hal baru.
Ratusan peserta hadir dalam seminar tersebut, sebagai pembicara, saya berikan pendekatan yang lebih interaktif dan melibatkan. beberapa peserta saya berikan kesempatan untuk mengemukakan pikirannya dan menjawab pertanyaan yang tadi saya ajukan. Jawabannya luar biasa, beragam, dan variatif. "Apa harga yang harus kita bayar untuk sebuah kesuksesan?", ada yang menjawab : belajar, kerja keras, ketekunan, mimpi, kejujuran, jaringan, berbuat baik, doa, upaya, keberanian, fokus, disiplin, pantang menyerah, inovatif, kreatif, rajin, mengambil hikmah, tidak mudah sakit hati, sistem, keteguhan, luar biasa beragam jawaban yang muncul. Namun yang menjadi perhatian saya justru hal yang lebih sederhana, bahwa sebenarnya, siapapun kita, sebenarnya sudah mengetahui jawaban dari "Apa harga yang harus kita bayar untuk sebuah kesuksesan?", bahkan bila misalnya ada 300-400 peserta dalam sebuah seminar dan kita berikan satu-persatu kesempatan untuk menjawab, kita akan mendapatkan 300-400 jawaban yang berbeda!
Nah, dengan fakta ini, kenapa minoritas orang kita yang benar-benar meraih dan menikmati kesuksesan tersebut? Karena mayoritas dari kita "tahu" harganya, namun tidak cukup ngotot untuk "mau" membayar harga tersebut, sehingga tidak ada upaya untuk melunasi, atau bahkan sekedar mulai mencicil harga dari kesuksesan yang menjadi dambaan dari setiap kita.
Mengubah pola pikir merupakan pondasi dasar untuk perubahan ini, sekedar tahu tidak akan membuat kita bergerak, namun jika kita mau dan bergerak merupakan sebuah proses yang mendekatkan kita kepada kesuksesan. Mari memilih, menjadi sekedar tahu, atau beranjak untuk mau, melakukan, dan meraih yang kita impikan. Level Up! Yourself!

with regards,

Faizal SurpluS MBA
Motivator | Pendiri SurpluS Institute
www.surplusinstitute.com
Baca selengkapnya »

Level Up! Memaknai Kesuksesan Berikutnya

23/07/11 0 respon

Setiap orang dilahirkan sukses, setiap orang ditakdirkan sukses.
Kita semua setuju dengan fakta ini. Anda, Saya, Kita semua dilahirkan dan ditakdirkan sukses.
Artinya bila pikiran, langkah, dan gerakan kita tidak berorientasi sukses, maka tentu saja kita ingkar dan membantah takdir sukses kita. Memahami kesuksesan ini, apa yang kita lakukan? berhenti, berleha-leha, dan menikmati sambil mengenang kesuksesan kita? Tidak! Karena yang perlu dilakukan adalah senantiasa meningkatkan diri, Level Up! Agar kita selalu meraih sukses berikutnya, sukses di tingkat yang lebih tinggi, sukses hari ini yang lebih dari sukses kemarin, dan sukses esok yang lebih baik dari sukses hari ini.
Penyikapan atas sukses ini sifatnya dinamis, seperti bila kita berada di dalam mobil dan terjebak di dalam kemacetan. Bila mobil kita berhenti, dan mobil di kanan kiri kta bergerak, apa yang kita rasakan? tepat sekali, rasanya seperti mobil kita berjalan mundur. Seperti itulah bila sukses tidak diupgrade, tidak di Level Up!, meski kita sebenarnya berhenti, jika lingkungan kita, kompetitor kita, bergerak lebih tangkas dan lebih cepat, dan kita diam saja, pada hakikatnya kita mengalami kemunduran,
Level Up! Yourself! Rancang hal besar, lakukan action nyata untuk mencapainya, sukses itu day-by-day yang dinamis dan progresif. Start it Now. We Can, Yes We Can.

with regards,

Faizal SurpluS MBA
Motivator | Pendiri SurpluS Institute
www.surplusinstitute.com
Baca selengkapnya »